![]() |
| Semudah itukah ganti Tuhan? |
Pembelajaran bisa datang dari mana saja. Termasuk dari pengalaman seorang teman. Ada sedih dan syukur tiap kali aku mengingat ceritanya. Sedih karena apa yang menimpanya dan syukur karena aku bisa belajar darinya.
Wati (nama samaran) adalah seorang teman yang ku kagumi. Diam-diam aku memujinya berharap bisa sepertinya. Salat lima waktunya tak pernah ketinggalan, salam malamnya tak pernah ketinggalan, juga puasa Senin-Kamisnya.
Jujur aku iri, bagaimana dia bisa teguh berpuasa sunah padahal saat itu sakit maag menderanya. Bagaimana bisa dia selalu salat malam padahal dia anak kos, jauh dari pengingatan dan pengawasan orang tua yang berada di Pacitan. Aku iri dengan kedekatannya dengan Allah.
Namun suatu waktu, tiba-tiba aku mendengar kabar menyentak tentangnya. Cerita yang membuatku tertegun, menahan nafas, kemudian meluruhkan air mata. Antara percaya dan tidak.
Wati telah berganti Tuhan!
"Dua hari lagi Wati dibaptis, Mey." Tutur teman yang membawa kabar duka itu dengan mata berkaca seperti halnya diriku yang mendengar kabar itu.
"Kenapa?" tanyaku singkat saat itu.
"Wati sempat curhat padaku, kalau dia mau nikah sama pacarnya yang sekarang. Tapi syaratnya cuma satu, dia harus dibaptis."
"Astagfirullah, dan Wati bersedia?" Aku pun menangis tanpa menunggu jawaban. Dalam benakku bertanya. "Semudah itukah Tuhan diganti?"
"Wati diperkosa sama pacarnya."
Cukup miris hatiku, seolah tak ingin lagi aku mendengar kisahnya.
Cukup, cukuplah ini menjadi pelajaran buatku. Untuk senantiasa membangun kedekatan dengan Allah, Rabbku, Tuhanku. Dekat yang sedekat-dekatnya. Tak cukup seperti yang kuirikan pada temanku itu dahulu. Harus dekat, sedekat-dekatnya.
Dalam salat Maghribku waktu itu aku bersyukur atas nikmat Islam yang masih kugenggam. Berdo'a memohon kepadaNya. Semoga Allah bukakan pintu kembali bagi Wati. Semoga Allah juga senantiasa merengkuhku dalam penjagaannya. Aamiin.
<Mey, Sukoharjo>

0 Response to "Semudah itukah Tuhan diganti?"